Kenali Gaya Belajar Anak saat ‘di Rumah Aja’

Pandemi virus corona membuat Gempita Nora Marten yang akrab disapa Gempi belajar di rumah. Sang ibu, Gisella Anastasia pun mau tak mau mendampingi sang anak belajar dan mengerjakan tugasnya. Buatnya, amunisi kesabaran jelas harus berlipat menghadapi Gempi yang kadang terdistraksi saat belajar.

“Saya udah bilang dari awal sih ‘Mama kalau ngajarin galak’. Nah dia nih kadang takut kalau bikin salah. Dia bilangnya ‘Sorry mommy’,” ujar Gisel terkekeh saat webinar bersama Sampoerna Academy, beberapa waktu lalu.

Namun, dirinya mengaku mengenali gaya belajar Gempi membuatnya tahu strategi tepat dalam mendampinginya. Dari empat jenis gaya belajar anak seperti visual, auditori, baca/tulis, dan kinestetik, dia menuturkan anaknya memiliki gaya belajar hampir rata. Namun karena Gempi termasuk anak yang banyak bergerak maka dia cenderung menonjol di kinestetik.

“Susah diamnya ini saya manfaatin. Kemarin dia ngotot mau bikin kolam renang dari karton. Saya bilang, ya enggak bisa, karton bisa basah. Cuma ya sudah, praktik langsung (terus tahu kartonnya basah),” kenangnya.

Melihat pengalaman Gisel, psikolog Jovita Ferliana berkata orang tua perlu menyesuaikan diri dengan gaya belajar anak. Orang tua tidak bisa memaksakan anak buat mengikuti cara mereka. Dia mengatakan generasi sekarang atau generasi alpha memiliki karakteristik belajar yang khas yakni independen, inovatif dan berbasis teknologi.

Penting sekali mendampingi anak dengan menyesuaikan gaya belajar mereka apalagi di masa pandemi.

“Guru dan siswa terpisah jarak, terpisah secara emosional, tatap muka enggak bisa sehingga di sini orang tua berperan dan mengambil alih posisi tersebut. Orang tua jadi jembatan guru dan siswa. Oleh karenanya orang tua perlu mengenal gaya belajar anak agar hasil belajar optimal,” jelas Jovita dalam kesempatan serupa.

Kenali gayanya

Jovita menjelaskan secara garis besar ada empat gaya belajar anak. Visual, artinya anak lebih mudah belajar dengan mengenali gambar, grafik, juga diagram. Auditori berarti anak lebih mudah memahami sesuatu lewat mendengarkan. Baca/tulis (read/writing) artinya anak cenderung membaca sendiri atau menuliskan baru bisa paham. Sedangkan kinestetik artinya anak mencoba mempraktikkan, menggabungkan indera-inderanya atau menerapkan dalam keseharian.

Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengenali gaya belajar anak?

1. Perhatikan kebiasaan anak

Mumpung ‘di rumah aja’, orang tua bisa lebih banyak waktu untuk memperhatikan kebiasaan anak. Kebiasaan ini misalnya, anak suka menggambar, berbicara, membaca buku atau banyak mengutak-atik mainan.

“Anak suka menggambar, oh ini anak visual, kemudian anak suka baca, ini tipe read. Anak banyak aktivitas gerak, ini kinestetik. Anak suka mendengarkan lagu, bisa saja ini auditori,” kata Jovita.

Namun bukan tidak mungkin gaya belajar anak bisa perpaduan dua atau tiga gaya belajar. Menurut dia, sebenarnya semua anak memiliki empat gaya belajar ini tetapi tiap anak bakal beda kecenderungannya misal anak menonjol di visual, tetapi kinestetik ada terlihat.

2. Berikan tugas

Gaya belajar anak juga bisa tampak dari cara dia menyelesaikan tugas. Jovita memberikan contoh anak diberikan tugas merakit mobil mainan. Anak dengan tipe visual biasanya akan melihat gambar mobil versi utuh terlebih dahulu, baru dia mulai merakit.

Anak tipe read/writing akan membaca petunjuk perakitan baru bekerja. Sedangkan anak auditori lebih memilih mendengarkan tutorial perakitan, jika ada, atau meminta orang tua untuk menjelaskan cara merakit mainan. Beda lagi dengan anak kinestetik. Mereka bakal langsung merakit tanpa modal apapun dan tidak ragu mencoba lagi saat rakitan tidak pas.

3. Perhatikan gangguan yang merusak konsentrasi anak

Distraksi selama belajar di rumah kerap tidak bisa dihindari. Namun ini jadi kesempatan orang tua untuk mengenali gaya belajar anak. Saat anak melihat ada ayah atau ibu lewat saat dia belajar dan konsentrasi belajar buyar, kemungkinan anak cenderung memiliki tipe belajar visual.

“Anak dengar suara hewan, kendaraan, gaya belajarnya cenderung auditori. Dia bisanya belajar di saat kondisi tenang sambil membaca, ini bisa tipe read/writing,” jelas Jovita.

4. Komunikasi dengan guru

Demi proses dan hasil belajar optimal, kolaborasi dengan guru jelas diperlukan. Komunikasi dengan guru pun bisa membantu orang tua mengenali gaya belajar anak. Guru, kata Jovita, mengobservasi anak-anak selama di sekolah sehingga tahu anak tipe yang seperti apa, kebiasaan saat belajar di sekolah bagaimana.