Rekanbola SpaceX menjadi perusahaan antariksa yang dipilih Telkom untuk menerbangkan satelit Merah Putih. Tentu ada alasan tersendiri kenapa perusahaan milik negara ini memilih SpaceX yang didirikan oleh Elon Musk itu.

Pada 2017 lalu, untuk satelit Telkom 3S, Telkom menggaet vendor asal Prancis, yakni Thales Alenia Space untuk membuat bodi satelit, dan Ariane Space untuk membuat peluncur satelit (launcher). Kini, mereka berpaling ke SpaceX untuk menerbangkan roket dan SSL dalam pembuatan satelitnya. Keduanya berbasis di Amerika Serikat.

“Kenapa SpaceX? Teknologi sekarang kan semakin maju. Makin maju akan berefek pada harga yang lebih efektif. Kita lihat dari sisi biaya peluncuran lebih rendah dari yang kita lakukan sebelumnya,”

demikian dikatakan Vice President Corporate Communication Telkom, Arif Prabowo, kepada media Indonesia di Miami, Amerika Serikat.

SpaceX memang memiliki teknologi roket yang dapat digunakan kembali, tidak hanya sekali. Misalnya, pada roket Falcon 9 yang menerbangkan satelit Merah Putih. Hal itu berujung pada biaya penerbangan yang dapat ditekan.

“Kenapa ongkosnya lebih rendah, karena SpaceX punya teknologi yang istilahnya flight proven, sudah berhasil. Kita memilih launchernya perusahaan-perusahaan dengan tingkat keberhasilan yang tinggi sehingga SpaceX memenuhi kebutuhan itu. Tingkat keberhasilannya di atas 98%,” lanjut Arif.

Namun Arif tidak membeberkan berapa biaya investasi yang dikeluarkan Telkom kali ini untuk menerbangkan satelit Merah Putih. Selain SpaceX sebagai peluncurnya, pembuatan satelit Merah Putih diserahkan pada perusahaan SSL yang berbasis di San Francisco.

SSL dikatakan punya reputasi bagus. Mereka meluncurkan satelit komunikasi pertama di dunia, Courier 1B, pada tahun 1960. Mereka telah memproduksi lebih dari 275 satelit dan memberikan 2000 tahun layanan orbit.

Selain Telkom, SSL juga tercatat membuat satelit untuk perusahaan Indonesia lain. Yaitu PT Pasifik Satelit Nusantara dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Pembuatan Satelit Merah Putih sendiri memakan waktu 2,5 tahun yang dimulai dari awal 2016. SSL berhasil mengerjakannya lebih cepat dari jadwal.

 

( Sumber : detik.com )