REKANBOLA – Seorang pria berusia 45 tahun dari wilayah pedesaan di Kenya dipuji sebagai pahlawan oleh warga di desanya. Ia dianggap berjasa telah membuka jalan sepanjang 1,5 kilometer (km) di atas area penuh semak seorang diri hanya dalam enam hari, hanya menggunakan peralatan sederhana.

Warga Kaganda, sebuah desa kecil berjarak 80 km sebelah utara ibukota Kenya, Nairobi, sudah lama meminta pemerintah lokal untuk membuat jalan pendek yang bisa menyingkat waktu perjalanan mereka ke pasar terdekat. Meski area semak belukar di mana jalan itu akan dibangun telah mendapat alokasi dana, tapi pemimpin daerah setempat terus menunda proyek tersebut.

Setelah jalan setapak yang biasa digunakan warga Kaganda menuju pusat perdagangan dipagar karena melewati properti pribadi, warga pun tak punya pilihan lain selain harus berjalan sejauh 4 km setiap hari. Saat itulah pahlawan lokal di sana memutuskan untuk mengatasi masalah tersebut dengan tangannya sendiri dan menggali jalan yang sudah lama dinanti seorang diri, tanpa dibayar.

Dikutip dari laman Rekanbola, Nicholas Muchami, yang bekerja serabutan di siang hari dan bekerja sebagai penjaga di malam hari, dengan sukarela menggali jalan sepanjang 2 km hanya menggunakan peralatan pertanian. Dia bekerja tanpa lelah dari pukul 07.00-17.00 selama enam hari berturut-turut.

Pria 45 tahun itu pun berhasil membersihkan jalur bersemak sepanjang 1,5 km, menghasilkan jalan tanah yang cukup lebar untuk dilintasi mobil. Meskipun ia masih harus menyelesaikan 500 meter jalan, usahanya telah mendapat perhatian media internasional.

“Saya sudah mengajukan permohonan kepada pemerintah lokal untuk membangun jalan tapi semua sia-sia. Kemudian saya memutuskan untuk membangunnya menggunakan peralatan berladang saya demi para wanita dan anak-anak, dan untuk menghemat waktu,” ujarnya kepada Daily Nation.

Muchami kini sedang rehat dari pekerjaannya membuka jalan untuk kembali ke pekerjaan biasanya dan untuk mendapatkan pemasukkan. Napi dia berencana membersihkan sisa jalan dan menyempurnakan keseluruhan jalan. Meskipun belum selesai, tapi jalan itu sudah dipakai oleh para pelajar di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kaganda, begitu juga oleh beberapa warga lainnya.

“Kami berutang banyak. Bahkan saya akan mengatur para penduduk agar setidaknya memberikan makanan saat ia bekerja pada sisa jalan yang belum selesai. Saya juga senang bisa kembali ke gereja setelah dua tahun berhenti karena jalan yang buruk dan juga area berbukit. Tubuh saya lemah,” ujar Josephine Wairimu, seorang warga berusia 68 tahun.

Ironisnya, meski sudah melihat bagaimana Nichola menggali jalan selama enam hari, tidak ada satu pun warga Kaganda datang membantu karena mereka tidak mau bekerja tanpa dibayar. Bahkan, Muchami mengatakan kepada Rekans, banyak orang yang lewat menanyakan padanya apakah ada yang membayarnya.

“Saat saya menggali jalan, orang akan bertanya, ‘Apakah kau dibayar?'” katanya.

Cerita Nicholas Muchami menjadi viral di media sosial beberapa pekan lalu, dan banyak yang menjulukinya sebagai pahlawan dan patriot sejati, dan di waktu yang sama mereka juga mengkritik pemerintah lokal karena gagal menjalankan kewajiban mereka. Banyak yang meminta pemerintah setidaknya menghargai jerih payah Muchami dan memperbagus jalan tanah itu.