Rekanbola – Krisis finansial alias masalah keuangan memang seringkali menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tak jarang menyulitkan banyak pihak. Uang dan lagi-lagi uang, seolah tanpa uang semua perkara menjadi seret.  Pada suatu hari saya menerima pesan yang masuk melalui aplikasi di HP, isinya, “Bro gimana nih ada longgar tarik (maksudnya uang buat dipinjam) ga? Dikit aja buat dana sampe gajian.” Saya hanya tersenyum sekaligus heran membaca pesan tersebut. Itu contoh kasus pertama.

Baca Juga :  Jepret! Jokowi dan Turnbull Selfie Bareng 2 CEO Australia

Contoh kasus kedua saya merasa lebih lucu lagi sekaligus menyebalkan, saya bilang lucu karena justru yang BU alias butuh uang alias krisis finansial adalah bekas rekan kerja saya yang pernah menjabat sebagai Kepala Bagian di suatu bank swasta, yang menurut logika saya, gajinya cukup lumayan. Dan modus mantan rekan kerja saya juga sama, mengirim pesan melalui aplikasi di HP. Kira-kira bunyinya seperti ini, “Tolong bantu talangin 1 juta untuk bayar kartu kredit.” Dan yang lebih mengagumkan lagi jika saya malas menanggapi pesannya, dia akan menelpon sambil memaksa untuk meminjam uang. Yang menyebalkan adalah di hadapan banyak orang saya masih ingat waktu itu dia masih mencoba bergaya dengan mobil Hyundai Getz hasil utang juga.

Oke, 2 contoh kasus itu mungkin pernah kita alami. Ternyata jabatan, gaji atau malah umur belum tentu membuat kita terjamin untuk tidak kekurangan uang. Apa yang terjadi ketika dana yang harusnya kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hati ternyata kurang? Cara paling praktis adalah meminjam uang sebagai dana talangan. Berhubung kedua contoh kasus tadi sering saya temukan jadi saya menyebut aliran dana yang diperuntukan untuk orang-orang seperti kedua oknum di contoh kasus tersebut sebagai program Bantuan Likuiditas Bapak dan Ibu alias BLBI.

Filosofinya sama dengan program Bantuan Likuiditas Bank Indonesia era krisis ekonomi 1997-1998, dimana pemerintah menyuntik sejumlah besar uang untuk memenuhi kebutuhan dana bagi bank yang dikategorikan “sakit” atau perlu uang. Ya, dalam kedua kasus yang saya ceritakan, kedua oknum tersebut juga perlu uang. Jadi BLBI merupakan dana talangan bagi pihak yang membutuhkan dana, bedanya BLBI untuk oknum yang saya singgung krediturnya adalah bisa teman, saudara atau bahkan orang tua. Kreditur yang menjadi korban akibat oknum-oknum tersebut salah urus keuangan pribadi, dengan kata lain orang lain menjadi pihak yang harus menanggung alias nombok kekurangan dana mereka. Sulit kan berada di posisi itu.

Buruknya pengelolaan perencanaan keuangan dapat menyebabkan banyak persoalan, jadi lebih baik kita coba belajar untuk menerapkan manajemen keuangan sederhana secara baik dan cermat, agar dana yang kita terima sebagai penghasilan dapat mencukupi biaya yang harus dibayar.

Membudayakan Menabung dan Memahami Nilai Ekonomi

joburgwest.getitonline.co.za
joburgwest.getitonline.co.za

Biasakan menabung atau menyisihkan uang berapa pun jumlahnya. Bahkan hal tersebut dapat dimulai ketika usia seseorang masih kecil. Jika kita hidup di lingkungan suatu keluarga, mulailah membiasakan anak-anak di sekitar kita untuk menabung. Ajari mereka memahami nilai ekonomi dari uang dan juga menerapkan pola pikir bahwa untuk mendapatkan uang diperlukan usaha.

Budaya tradisional nenek moyang kita sesungguhnya sejak lama mengajarkan nilai yang sangat bermanfaat dari menabung melalui media celengan, dimana kita diajarkan untuk menyimpan uang receh. Atau tradisi menyimpan uang di tiang bambu rumah yang kerap dilakukan para petani di jaman dahulu. Nah, masyarakat kuno saja telah sejak lama melakukan hal itu, seharusnya manusia di era modern dapat lebih memahami budaya menabung.

Budaya menabung yang diterapkan sejak usia dini dapat tumbuh dan berkembang dalam karakter pribadi seseorang, jadi ketika orang tersebut dewasa dan memiliki penghasilan, menabung merupakan yang biasa dilakukan, sehingga orang tersebut memiliki simpanan uang yang dapat digunakan ketika diperlukan. Di sisi lain, orang tersebut juga dapat memahami bahwa untuk mendapatkan hasil atau uang diperlukan adanya jerih payah atau usaha, proses dari bekerja dan waktu untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Tidak Perhitungan Tetapi Menghitung

 Saya adalah orang yang tidak perhitungan tetapi menghitung dalam urusan yang menyangkut biaya. Beberapa rekan menyebut saya pelit, tetapi saya rasa mereka sedikit salah. Saya orang yang menganut ideologi efisien dalam hal biaya. Artinya adalah saya akan selalu keberatan untuk mengeluarkan biaya yang tidak diperlukan. Dalam melakukan sesuatu hal yang diperlukan biaya, sudah sewajarnya kita menghitung yang perlu dan yang tidak diperlukan. Rasanya konyol jika kita membayar untuk hal yang sama sekali tidak perlu, kecuali tertipu.

Agar biaya yang akan dikeluarkan dapat terkendali, buatlah anggaran biaya yang diperlukan, lihat lagi berapa banyak dana yang kita miliki dan berapa banyak yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu urusan. Kita dapat membuat estimasi anggaran, termasuk menghitung biaya tidak terduga. Jika semuanya sesuai dengan anggaran, maka tidak perlu lagi terlalu perhitungan karena semuanya telah dihitung sewaktu membuat anggaran.

Belajar Membuat Perencanaan Keuangan

(Sumber gambar: artlar.net)
(Sumber gambar: artlar.net)

Banyak rekan yang mengatakan saya orang yang sering berpikir terlalu jauh, tetapi bagi saya berpikir tentang membuat rencana keuangan alias financial projection adalah suatu hal yang sangat penting. Setiap orang pasti memiliki cita-cita, impian atau tujuan. Saya yakin akan hal itu. Jika anda berkeluarga dan punya anak, tentu terpikir nanti anak anda akan masuk sekolah dan jaman sekarang biaya pendidikan tidak murah. Hal yang bisa mulai dilakukan adalah membuat perencanaan keuangan. Mulai berhitung dalam berapa tahun ke depan anak anda mulai sekolah dan bagaimana anggaran biaya yang diperlukan. Kemudian buatlah komitmen usaha untuk mewujudkan hal tersebut.

Mungkin dalam 5 tahun ke depan untuk masuk sekolah diperlukan biaya 15 juta rupiah. Silahkan dikalkulasi, berapa uang yang perlu disisihkan mulai saat ini sampai dengan 5 tahun lagi terkumpul 15 juta rupiah. Jika anda menyisihkan 10 ribu rupiah sehari selama 5 tahun, rasanya jumlah yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Dan tentunya tidak terlalu besar nilai 10 ribu rupiah untuk saat ini, tetapi saya yakin nilai uang 15 juta rupiah merupakan jumlah yang cukup besar bahkan untuk 5 tahun ke depan sekalipun. Jadi mulailah secara bertahap untuk merencanakan keuangan yang diperlukan.

Kebutuhan Bukan Keinginan

Ini masalah gaya hidup, apalagi di era modern seperti saat ini banyak juga orang yang mementingkan penampilan ketimbang kemampuan. Kembali ke contoh kasus kedua yang saya ceritakan di atas. Mengendarai Hyundai Getz hasil utang, bergaya dengan hand phonebaru, tetapi akhirnya keuangan tekor bahkan dengan cara memaksa malah meminjam uang untuk menalangi tagihan kartu kredit. Saya mengalami secara nyata betapa menyebalkan memiliki hubungan dengan orang semacam ini. Mereka yang bergaya orang lain yang menjadi pusing karena rengekan minta BLBI.

thebusinesswomanmedia.com
thebusinesswomanmedia.com

Jika kita memiliki penghasilan sudah sewajarnya kita menilai gaya hidup seperti apa yang patut kita jalani. Kita tidak mampu memiliki gaya hidup seperti selebritis papan atas jika kita hanya sebatas pekerja kelas menengah, apalagi untuk orang-orang yang telah memiliki anak dan istri sebagai tanggungan. Perlu dilihat hal-hal apa yang harus dipenuhi sebagai kebutuhan utama, misalnya biaya makan atau keperluan rumah. Urusan keinginan dapat dikesampingkan dan disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Pusing ya dalam mengelola dana untuk kebutuan dan keinginan, tetapi memang seperti itulah konsekuensi untuk tanggung jawab yang kita emban. Prioritaskan kebutuhan yang harus dipenuhi, jika anda memiliki kebiasaan yang tidak penting sebaiknya dikurangi atau malah dihentikan. Contoh adalah kebiasaan merokok, bagi sebagian orang rokok adalah kebutuhan, tetapi faktanya rokok itu merupakan faktor yang merusak baik dari sisi keuangan dan kesehatan. Kurangilah rokok yang dikonsumsi, saya yakin ketika konsumsi rokok berkurang dananya dapat digunakan untuk hal yang lebih penting. Contoh lainnya yang sering saya tertawakan adalah kebiasaan minum kopi di cafe. Kesannya keren, elegan, tetapi bagi saya itu hanya gaya-gayaan. Lebih baik kebiasaan itu dikurangi. Lagi pula untuk membuat kopi yang enak tidak harus membeli kopi di cafe.

Penyesuaian gaya hidup harus seimbang dengan kemampuan dan keadaan. Ketika anda masih single gaya hidup anda bisa lebih bebas ketimbang ketika sesudah berkeluarga. Ingat, dengan memutuskan untuk berkeluarga anda telah berkomitmen untuk susah senang bersama, jadi jangan mengeluh jika menemui kondisi susah. Sebelum menemui masa sulit, sebaikanya sesuaikan gaya hidup anda untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab, contohnya mulai lebih rajin menabung, hemat dan belajar merencanakan keuangan.

Investasi

Ini hal yang menarik, jika anda memiliki simpanan dana, maka anda dapat memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan selera. Tentunya harus disesuaikan juga dengan kemampuan. Anda dapat menyimpannya dalam bentuk deposito, reksa dana maupun ekuitas. Jika dana yang anda miliki cukup untuk membeli properti, nampaknya hal itu lebih baik segera diwujudkan. Atau anda tertarik dengan safe haven, pilih emas murni sebagai komoditas investasi.

***

Jujur saja saya lebih suka dengan penampilan saya yang biasa saja atau terkesan semaunya, daripada saya bergaya tetapi tidak memiliki simpanan apapun. Dalam kondisi santai saya senantiasa memilih penampilan seadanya memakai tas punggung, celana jeans, kaos hitam polos dan sepatu lari adidas warna hitam. Terkesan seperti tidak pernah ganti baju, tetapi itu lebih baik karena untuk urusan biaya dan rencana saya telah memiliki perhitungan, sehingga sebisa mungkin saya tidak menyulitkan orang lain, terutama dalam urusan uang.

 

(Sumber : kompasiana.com)