AS Fokus Teliti Terapi Plasma Darah Pasien Sembuh untuk Obati Corona

RekanbolaSejumlah negara mulai menguji terapi plasma darah dari penyintas Corona (COVID-19) guna mengobati pasien Corona. Amerika Serikat (AS) termasuk salah satu negara yang fokus meneliti metode ini. Namun, apakah cara ini efektif untuk mengobati pasien Corona?

NHS Blood and Transplant (NHSBT) meminta orang-orang yang sembuh dari Covid-19 untuk menyumbangkan darah sehingga lembaga kesehatan itu bisa menguji coba terapi tersebut.

Harapannya, antibodi dalam plasma darah para penyintas bisa membantu melawan virus di tubuh orang yang sakit. AS telah memulai proyek besar-besaran untuk meneliti ini, melibatkan lebih dari 1.500 rumah sakit.

Teorinya, ketika seseorang terjangkit COVID-19, sistem kekebalan tubuh mereka merespons dengan menciptakan antibodi, yang menyerang si virus. Lama-kelamaan antibodi ini terkumpul dan bisa ditemukan di plasma, komponen cairan darah.

Sementara itu di AS, para ilmuwan menyelenggarakan proyek nasional hanya dalam tiga pekan, dan sekitar 600 pasien telah menerima pengobatan. Ikhtiar ini dipimpin Profesor Michael Joyner, dari Mayo Clinic.

“Hal yang kami pelajari dalam pekan pertama penelitian ialah tidak ada masalah keamanan besar yang muncul dan pemberian produk (plasma) tampaknya tidak menyebabkan banyak efek samping yang tak terduga,” kata Joyner.

Pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Johns Hopkins Dr Arturo Casadevall yang mengajukan izin ujicoba plasma darah ke otoritas makanan dan obat-obatan AS (FDA) menjelaskan, pihaknya belum tahu apakah penggunaan plasma darah pasien sembuh akan menyembuhkan pasien yang masih sakit. Namun jika merujuk pada sejarahnya, plasma darah memang pernah berhasil mengobati beberapa penyakit.

“Kita tidak akan tahu hasilnya sampai kita melakukannya. Tapi bukti sejarah menunjukkan hasil yang menggembirakan,” ujar Dr Casadevall.

Dr Casadevall merujuk pada penggunaan plasma darah ini dalam kasus wabah flu Spanyol di awal Abad 20, dalam wabah polio dan campak, serta dalam kasus SARS dan Ebola beberapa tahun lalu.

Selain itu, pada tahun 2003, kalangan dokter di China menggunakan plasma darah dari pasien yang pulih untuk mengobati 80 orang yang menderita SARS, yang masih satu rumpun dengan virus corona.

Sedangkan pada 2014 WHO telah menerbitkan pedoman untuk menggunakan plasma darah untuk mengobati orang yang terinfeksi Ebola karena hasilnya yang menjanjikan.

Di Indonesia, penelitian tentang plasma darah sebagai kemungkinan obat untuk pasien COVID-19 juga dilakukan oleh RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Dalam penelitian ini pihak rumah sakit bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Biologi Molekuler Eijkman dan Biofarma.

Namun, apakah terapi plasma darah untuk mengobati Corona memang efektif?

Sebuah penelitian yang terbit di jurnal Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional AS (PNAS) mengungkapkan hasil penelitian terapi plasma darah terhadap pasien Corona. Hasil penelitian bertajuk ‘Effectiveness of convalescent plasma therapy in severe COVID-19 patients’, terbit pada 6 April 2020 lalu. Makalah ini statusnya telah ditinjau (reviewed).

Penelitian ini menggunakan plasma darah dari 10 pasien COVID-19 yang telah pulih, untuk ditransfusikan ke 10 pasien Corona (rentang usia 34-78 tahun) yang punya gejala parah di salah satu RS di Wuhan. Tiap pasien mendapatkan dosis 200 ml tranfusi darah.

Hasilnya, tulis penelitian tersebut, kondisi ke-10 pasien membaik dan gejala hilang dalam 1 hingga 3 hari usai transfusi dilakukan. Sebelumnya, 3 pasien membutuhkan ventilator untuk bernafas. Usai tranfusi, dua di antaranya bisa bernafas tanpa ventilator.

Selain itu, para peneliti juga mengamati perkembangan CT scan paru-paru 10 pasien itu. Sebelum transfusi darah, tampak ada kerusakan (lesion) pada paru-paru pasien. Usai transfusi darah, paru-paru perlahan menjadi jernih kembali alias mulai membaik.

Para peneliti mengatakan bahwa terapi plasma darah dapat berfungsi sebagai opsi penyelamatan yang menjanjikan untuk COVID-19 yang parah sementara. Kendati demikian uji coba acak masih diperlukan.