Rekanbola – Pernah lihat Christiano Ronaldo atau Lionel Messi main sepak bola?

Itu sih udah biasa. Tapi kalau lihat orang purba main bola?

Hmm… kira-kira seperti apa ya jadinya?

Itulah  yang diceritakan dalam film “Early Man” atau dalam bahasa Indonesia  berarti “Orang Purba”. Saya sendiri menontonnya bersama Komik beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Nyepi Getaway di Resort Kelas Dunia Nusa Dua Bali

Tentang apa sih “Early Man”? Film asal negeri Lady Diana ini berkisah tentang  sekelompok orang purba yang  tinggal di sebuah lembah. Hari-hari mereka lalui dengan damai. Namun ketika Lord Nooth (disulihsuarakan oleh Tom Hiddleston) bersama  orang-orang zaman perunggu lainnya menguasai lembah untuk mengambil  kekayaan perunggu di dalamnya, seketika keadaan berubah. Kelompok orang  purba tersebut terusir dan mau tak mau membuat mereka tinggal di lahan  tandus dekat gunung berapi bersama bebek raksasa yang suka berkeliaran.

Semua  orang purba menyerah, bahkan Chief Bobnar (disulihsuarakan oleh Timothy  Spall) yang bertindak sebagai ketua geng sekalipun. Namun tidak dengan  Dug (Eddie Redmayne). Tak tinggal diam, ia justru  melawan. Ia  pun menyusup ke wilayah orang perunggu dan memilih untuk berjuang  mengambil kembali lembah yang telah direbut. Caranya? Lewat pertandingan  sepak bola.

Ketika ia ketahuan menyusup ke sana, Dug menantang tim  kesebelasan perunggu untuk bertanding bermain sepak bola dengan taruhan yang bukan main. Jika orang purba pemenangnya, maka mereka berhak  tinggal di lembah kembali. Namun jika orang perunggu pemenangnya, maka  mereka berhak menguasai lembah dan mempekerjakan orang purba.

 

(dok. pluggedin.com)
(dok. pluggedin.com)

Di sinilah masalah itu timbul. Bagaimana mereka dapat mengalahkan tim orang perunggu dalam pertandingan sepak bola padahal tidak ada satu pun dari mereka yang mengerti cara bermain sepak bola? Dug sempat pusing. Untungnya, Goona, wanita dari zaman perunggu bersedia membantunya. Walau sempat ditentang oleh Chief Bobnar, sejak itu orang-orang purba berlatih bermain sepak bola. Adanya gambar di batu yang menggambarkan bahwa leluhur mereka pernah bermain bola pada masa lampau kian memperkuat tekad mereka.

Mampukah mereka mengalahkan kesebelasan perunggu? Semuanya akan terungkap dalam film produksi Aardman Animations dan BFI berdurasi 89 menit ini.

Menonton “Early Man” mengingatkan saya dengan animasi stop motionlainnya yang rilis tahun 2000, “Chicken Run” karena memiliki gaya atau styleyang sama. Pantesan, ternyata setelah ditelusuri, kedua animasi tersebut berasal dari satu produksi yang sama, yakni Aardman Animation. Bedanya, jika “Early Man” merupakan kolaborasi produksi antara Aardman dan BFI, “Chicken Run” hanya Aardman saja.

Bagi teman-teman yang sedang banyak pikiran atau butuh hiburan, “Early Man” cocok sekali untuk ditonton. Animasi stop motion yang disutradarai oleh Nick Park ini sangat menghibur. Banyak adegan-adegan lucu, bahkan perut saya sampai sakit karena tak henti-hentinya tertawa. Salah satunya adalah tentang betapa inginnya Hognob, babi peliharaan Dug yang ingin masuk ke dalam tim sepak bola orang purba tetapi tidak diizinkan masuk karena kuotanya yang terbatas.

Film ini juga sarat akan pesan bahwa untuk mencapai suatu hasil, kita harus menghilangkan ego kita masing-masing. Kerja sama itu adalah kunci utama.

Kendati alur cerita di pertengahan, terutama tentang pertandingan sepak bolanya mudah tertebak, secara keseluruhan saya suka dengan animasi ini. Saya bahkan ingin menontonnya lagi dan mengoleksi DVD originalnya jika rilis di Indonesia. Dari skala 1-10, saya berikan nilai 7.5 untuk film ini.

 

 

(Sumber : kompasiana.com)