Rekanbola  —  Tahun 2020, beberapa vendor smartphone tampaknya akan lebih banyak meluncurkan smartphone 5G. Beberapa produsen ponsel seperti Samsung, Oppo, dan Vivo kabarnya akan meluncurkan ponsel terbaru mereka dengan fitur 5G.

Banyaknya produsen yang akan merilis ponsel 5G didukung dengan raksasa chipset Qualcomm yang meluncurkan dua prosesor 5G yakni Snapdragon 865 dan Snapdragon 765.

PR Manager Oppo Indonesia, Aryo Meidianto mengungkapkan bahwa untuk meluncurkan ponsel 5G di Indonesia pada 2020 belum memungkinkan. Pasalnya di Indonesia masih belum ada peraturan mengenai perangkat 5G.

“Tidak mungkin kalau kita duluan, karena kan belum ada peraturan tentang perangkat 5G itu bagaimana. Misalnya kita bikin juga tidak akan bisa dipakai, sayang. Untuk investasi juga susah karena kan belum tahu frekuensinya berapa, jadi tidak bisa. Sebelum semua seattle, frekuensi seattle, aturan untuk masukin perangkat 5G seattle, baru kita oke,” kata Aryo saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, pada 7 Desember 2019.

Lebih lanjut, Aryo juga mengungkapkan bahwa untuk membawa ponsel baru Oppo ke Indonesia, seperti Oppo Reno 3 5G yang akan diluncurkan di China, harus membutuhkan beberapa improvement. Pasalnya Oppo Reno 3 hadir dengan chipset 5G yang terintegrasi, sehingga tidak akan bisa digunakan di Indonesia.

“Tahun depan sebenarnya handphone-nya 5G semua, peraturannya kita harus ngakalin handphone dengan prosesor yang tidak 5G. Kalau misal 5G di lock terus nanti dibuka itu tidak bisa, ini tidak ada payung hukumnya,” jelas Aryo.

Dia juga mengatakan bahwa Oppo Reno 3 akan menggunakan prosesor Snapdragon 765G yang modemnya terintegrasi. “Jadi kita harus mengakali apa harus dipisah atau pakai Snapragon 710 lagi,” imbuh Aryo.

Lebih lanjut, Aryo mengungkapkan bahwa penentuan frekuensi juga sangat penting. Pasalnya secara global, negara-negara yang telah meluncurkan 5G menggunakan frekuensi 3,5GHz.

Akan tetapi, di Indonesia itu frekuensi 3,5GHz itu dipakai satelit untuk ATM. “Kemarin pas uji coba juga sempat ada gangguan. Jadi kita harus nunggu dulu, kalau missal pakai 28Ghz itu untuk industri karena jaraknya pendek,” kata Aryo.

Aryo menambahkan jika Indonesia menggunakan frekunsi 26Ghz atau 28GHz maka operator dan vendor smartphone akan lebih banyak mengeluarkan biaya dan investasi. Pasalnya operator harus lebih banyak membangun BTS, dan biaya layanannya akan sangat mahal.

“Kita vendor juga harus bikin handphone 5G yang 28Ghz, ini harus dipikirkan soalnya standar dunia itu 3,5GHz. Kalau nanti konsumen bawa ke luar negeri bakal protes tidak bisa dipakai. Karena kan misal di Indonesia 28GHz, tapi di luar 3,5, masih simpang siur sih,” kata Aryo.