Rekanbola – Wiji Thukul Widodo, seniman yang dianggap berbahaya karena puisinya ini telah lama hilang. Sejak pergejolakkan politik tahun 1996-1998 di Indonesia membuat Thukul kerap berpindah tempat. Awalnya ia tinggal di Jawa lalu pindah hingga akhirnya di Pontianak. Bertemu dengan seorang dosen berumur di bawahnya.

baca juga : COMEBACK MAIN FILM, TAMARA BLESZYNSKI JADI BODYGUARD CANTIK?

Ia berkata, Bang saya sangat suka puisi abang yang satu ini : Untuk apa kau banyak membaca tapi mulutmu tetap kau bungkam (kurang lebih seperti itu). Jadi saya lebih baik tidak membaca bang, karena takut berdosa, seketika suasana menjadi hening. Dan dosen itu menambahkan, Saya bercanda bang, dengan wajah datarnya.

Itu merupakan potongan kisah dari sebuah film yang diciptakan oleh Yosep Anggi Noen dengan mendapatkan inspirasi dari Kisah Pelarian Thukul ke Pontianak. Setelah resmi rilis 19 Januari 2017 lalu, kini tim film Istirahatlah Kata-kata kembali melakukan perjalanan ke kota-kota di Indonesia untuk melaksanakan diskusi dan nonton bersama, termasuk Kota Bandung.

Diskusi dan nonton bersama Istirahatlah Kata-kata bertajuk Bandung Menolak Lupa ini dikatakan sebagai refleksi pergerakan Wiji Thukul. Pun sebagai ajang silaturahmi bagi setiap anggota elemen pergerakan di Kota Bandung.

Ketua Pelaksana Diskusi dan Nonton Bareng, Dani Ramdani mengatakan bahwa acara terselenggara karena adanya antusias pergerakan di Kota Bandung, Kita bisa melaksanakan di Kota Bandung setelah sebelumnya ada sayembara dari akun resmi Istirahatlah Kata-kata, ujarnya.

Pemuda yang akrab disapa Cau itu menambahkan, gelaran acara ini sebagai langkah awal untuk mengedukasi masyarakat umum serta pelajar khususnya. Terlebih melihat panitia acara ini yang merupakan dari golongan pelajar dan mahasiswa. Pengetahuan mengenai sejarah Hak Asasi Manusia tentang pergerakan yang lalu, tambahnya.

Dalam diskusi ini menghadirkan Koordinator Kontras dan Amnesty Internasional, Usman Hamid yang berbicara hukum dan HAM, Aktivis yang juga musisi, Heri Sutresna atau Ucok Homicide tentang refleksi Wiji Thukul. Selain itu juga hadir pembedah pesan-pesan dalam film oleh Pengamat Film Nasional, Eriko Utama.

Acara ini dimeriahkan dengan stand bazaar buku, pameran fotografi oleh Photos Speak, penayangan film Bang Kiri Bang dari FFTV Institut Kesenian Jakarta juga dramatisasi puisi oleh Teater Pena Jurnalistik UIN Bandung. Penampilan puisi yang dibawakan oleh Arkas Saskara dan Navida serta Aksi Pantomime dari Wanggi Hoed